Sebagai seorang mahasiswa yang diragukan ke-maha-annya tentunya saya mempunyai perinsip bahwa sesuatu yang terjadi itu harus dapat dijelaskan secera rasional, termasuk fenomena kemunculan makhluk halus yang akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan di Bumi Nusantara ini.
Dalam agama saya memang dijelaskan bahwa makhluk hidup ciptaan Allah itu bukan hanya manusia saja, akan tetapi masih ada yang lainnya seperti malaikat, jin, dan lain sebagainya. Dijelaskan juga bahwa setan/syaiton memiliki permintaan untuk mengganggu manusia, mengganggu disini diartikan sebagai menghasut manusia untuk meninggalkan yang haq dan mendekati yang batil.
Jaman dulu setan/syaiton harus menghasut Nabi Adam dan Hawa untuk melanggar larangan Allah yaitu dengan memakan buah yang dilarang, akan tetapi seiring perkembangan jaman yang semakin maju, manusia sudah tidak perlu dihasut setan/syaiton lagi untuk berbuat keji dan mungkar, hal ini dapat dilihat bahwa tindak kejahatan yang terjadi sudah tidak mengenal waktu, dari setiap hari, tiap minggu, tiap bulan, tiap tahun ada saja kejahatan yang terjadi di muak bumi ini.
Mungkin al tersebut yang melatarbelakangi eksistensi makhluk halus belakangan ini, tentu saja alasannya karena mereka(setan/syaiton/jin) sudah berkurang lahan pekerjaan mereka untuk mengganggu manusia, sehingga mereka mengganggu manusia dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan memperwujudkan diri sebagai hantu yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Entah apa faedahnya bagi mereka melakukan hal tersebut yang jelas sudah cukup meresahkan masyarakat luas yang lemah imannya.
Kendati dipandang kurang kerjaan, ternyata aksi menakut-nakuti manusia yang dilakukan oknum jin/syaiton mendapatkan sorotan dari produser film Indonesia. Tengok saja, banyak film yang bertemakan hantu, mulai dari yang bergenre horor sampai komedi pun ada dan tidak lupa dibumbui dengan banyak adegan yang membuat tegang penonton laki-laki.
Siapa yang berani membantah bahwa hantu lokal memiliki kualitas horor tersendiri jika dibandingkan dengan hantu mancanegara, disaat vampir di luar negeri memakai setelan jas yang necis, hantu lokal seperti pocong berbalutkan kain putih yang sering disebut kafan disekujur tubuhnya dan malah kelihatan seperti arem-arem.
Walaupun dari gaya busananya yang terlihat konyol, namun kiesan horor tetap ada dalam diri pocong, jika tidak percaya coba lihat saja serial tv si mumun, pasti kita dibuat berdiri bulu kuduknya saat melihat film tersebut.
Kendati dipandang kurang kerjaan, ternyata aksi menakut-nakuti manusia yang dilakukan oknum jin/syaiton mendapatkan sorotan dari produser film Indonesia. Tengok saja, banyak film yang bertemakan hantu, mulai dari yang bergenre horor sampai komedi pun ada dan tidak lupa dibumbui dengan banyak adegan yang membuat tegang penonton laki-laki.
Siapa yang berani membantah bahwa hantu lokal memiliki kualitas horor tersendiri jika dibandingkan dengan hantu mancanegara, disaat vampir di luar negeri memakai setelan jas yang necis, hantu lokal seperti pocong berbalutkan kain putih yang sering disebut kafan disekujur tubuhnya dan malah kelihatan seperti arem-arem.
Walaupun dari gaya busananya yang terlihat konyol, namun kiesan horor tetap ada dalam diri pocong, jika tidak percaya coba lihat saja serial tv si mumun, pasti kita dibuat berdiri bulu kuduknya saat melihat film tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar