Dalam rangka mensyukuri nikmat dan karunia Allah/Tuhan/Sang Hyang Widhi sudah selayaknya dan sepantasnya bagi kita umat manusia untuk saling berbagi.
Walaupun untuk mensyukuri nikmat dan karunia-Nya banyak hal yang bisa kita lakukan, misalnya dengan menjauhi larangan-Nya, Banyak ibadah, Senantiasa bersabar dan bertawakal, dan masih banyak lagi. Tetapi contoh-contoh di atas hanya sebatas hubungan manusia dengan tuhannya, hanya sebatas habluminallah tentang hubungan secara vertikal antara manusia dengan Allah.
Apakah untuk hidup di dunia ini kita hanya berhubungan secara vertikal saja? Hubungan manusia dengan tuhannya saja? Tentu saja tidak.
Manusia sebagai makhluk sosial Homo Socialis tentu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia perlu berinteraksi dengan orang lain, manusia memerlukan orang lain untuk bertahan hidup, dan masih banyak hal yang tidak bisa kita lakukan tanpa bantuan orang lain.
Dilihat dari sudut pandang agama, Nabi Muhammad SAW sampun ngendika bahwa "Orang mukmin dengan mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagiannya dengan bagian yang lain saling menguatkan" Ini yang ngendika Kanjeng Nabi lho, bukan saya yang hanya butiran nutrisari ini, bukan juga Pak Jokowi, apalagi sampeyan.
Berbagi secara teoritis memang mudah, namun dalam praktik kesehariannya seringkali kita masih eman-eman untuk melakukannya.
Menurut pandangan saya, berbagi itu tidak harus dengan uang ataupun harta benda lainnya, bisa juga berbagi dengan kebaikan atau tenaga yang kita miliki.
Karena dengan berbagi, hal menurut kita kecil ataupun remeh temeh akan sangat berguna bagi orang lain yang membutuhkan.
Untuk berbagi tak perlu menunggu kaya, lakukanlah selagi bisa.
Lantas masih beralasan atau malas-malasan untuk berbagi?
Selamat Hari Jumat, semoga hidup kita varokah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar