Jumat, 04 Juli 2014

Pandangan Politik Saya

Maskot Pemilu 2014 SIKORA

gambar diambil dari google

 Lima hari lagi kita akan melaksanakan pesta demokrasi, sebuah pesta demokrasi setiap lima tahun sekali untuk memilih presiden dan wakil presiden. Satu pilihan yang akan menentukan nasib negara kita beserta rakyatnya.

Calon presiden dari kedua kubu saling beradu visi, misi dan janji-janji yang tak relistis. Tentunya sebagai pemilih kita dapat memilih dan memilah mana yang hanya  mengumbar janji dan mana yang hanya mencari sensasi bak selebriti.

Sayangnya pesta demokkrasi lima tahun sekali ini banyak diwarnai oleh perilaku-perilaku yang tidak terpuji, seperti black campaign dan mony politic, tentunya sebagai warga negara yang cerdas kita dapat menyikapi hal tersebut secara bijaksana.

Tentunya kita masih ingat pelajaran pendidikan kewarganegaraan waktu di Sekolah Dasar, di sana kita diajari asas pemilu, yaitu LUBER JURDIL. Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Tanpa saya jelaskan tentunya kita semua sudah dapat mengartikanya dan mempraktikannya.

Namun kenyataannya masih banyak yang tidak menerapkan asas tersebut, mulai dari banyak tersebar tabloid-tabloid yang memfitnah salah satu pihak, banyak dari saudara kita yang ditekan dan dipaksa untuk memilih salah satu pihak, banyak media masa yang saling fitnah-memfitnah dan saling mengumbar keburukan capres dan cawapres.

Sebagai warga negara yang awam politik saya merasa jengkel dengan hal-hal tersebut, mereka yang mengaku berpendidikan tinggi saja hal tersebut tidak tahu atau malah tidak mau tahu.

Artikel ini saya buat bukan untuk memojokkan salah satu pasang capres dan cawapres tertentu atau untuk mengajak untuk memilih salah satu pasang capres dan cawapres tertentu, namun semata-mata hanya untuk mengutarakan pandangan berpolitik saya.

Sebagai penutup semoga tanggal 9 Juli mendatang kita dapat memilih berdasarkan hati nurani kita, satu suara sangat menentukan nasib negara kita beserta rakyatnya.




Jumat, 14 Maret 2014

Maaf

Dear you.

Maaf jika mulutku sering membisu, karena aku hanya seorang laki-laki pemalu yang sering kehilangan kata saat bertemu denganmu.

Maaf jika aku sering memalingkan pandanganku padamu saat kita bertemu, bukan karena aku sombong atau tak mau melihatmu, tapi karena aku hanya ingin menyimpan rasa penasaranku padamu.

Maaf jika aku sering membuatmu ragu, aku hanya tak ingin mengumbar rasaku pada semesta, biarkan kita yang menikmatinya saja.

Maaf jika aku sering menyakitimu, semoga pelukku bisa mengobati perihnya lukamu.